oeniwahyuni

Just another WordPress.com site

“ KAJIAN GENOLINGUISTIK DALAM KONTEKS KEINDONESIAAN “

pada November 16, 2011

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Negara Republik Indonesia merupakan negara kesatuan ( NKRI ) yang dibangun diatas keanekaragaman budaya etnis. Keanekaragaman budaya itu merupakan kekayaan yang tidak dapat diabaikan karena mempunyai arti penting dipandang dari sudut dinamika makna yang terkandung dalam semboyang Bhineka Tunggal Ika. Berbagai fakta sejarah menunjukkan bahwa keanekaragaman budaya etnis itu dapat diperkuat sekaligus diperlemah dikelangsungan hidup suatu negara bangsa. Tidak jarang dari kejadian lokal yang berlatar belakang tuntutana etnis lokal memberi dampak pada skala nasional , seperti gerakan yang dilakukan Organisasi Papua Merdeka, gerakan yang menuntut bagi terbentuk Negara Maluku Selatan ( RMS ) dan lain-lain.

Indonesia, saat ini tengah menghadapi tantangan disintegrasi bangsa justru faktor penyebabnya lebih kuat berasal dari dalam diri. Keanekaragaman dalam ketunggalikaan belum mampu dipahami secara empiris-rasional, melainkan diterima secara indoktrinatif, misalnya melalui penataran P4, pendidikan moral pancasila seperti yang berlangsung pada era Orde Baru. Padahal linguistik genetika, termasuk arkeologi mampu secara bersama-sama menyediakan bukti empiris tentang keanekaragaman dalam ketunggalikaan.

Kerelaan untuk saling berkomunikasi menuju kesaling memahami antarbudaya membutuhkan kondisi yang dapat mempersatukan mereka dalam satu ikatan kebersamaan. Kondisi yang demikian ini dimungkinkan muncul apabila ada kesamaan sejarah atau kesamaan asal antarmasyarakat etnis lokal tersebut. Untuk itu diperlukan studi tertentu yang diharapan dapat memberikan informasi bahwa keragaman budaya bangsa Indonesia itu adalah satu atau satu dalam keanekaragaman. Kajian genolinguistik dipandang mampu menyediakan informasi akan kesamaan dalam keberbedaan suku bangsa di Indonesia.

B.     Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang dapat saya ambil berdasarkan latar belakang diatas yaitu :

  1. Jelaskan pengertian dari genolinguistik?
  2. Bagaimana sejarah kajian bahasa dan kelahiran dari genolinguistik?
    C.    Tujuan Penulisan

Tujuan  dibuatnya makalah ini yaitu untuk menjadi referensi bagi kita sebagai mahasiswa maupun khalayak umum yang membacanya agar lebih mengetahui tentang kajian tentang genolinguistik terhadap keindonesiaan.

D.    Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan ini yaitu :

  1. Untuk mengetahui pengertian dari genolinguistik.
  2. Untuk mengetahui sejarah kajian dari bahasa dan kelahiran genolinguistik.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertrian Genolinguistik

Istilah Genolinguistik digunakan untuk merujuk pada suatu kerja akademik yang bersifat kolaboratif antara dua disiplin ilmu yang berbeda. Kedua disiplin ilmu tersebut adalah linguistik dan genetika. Kajian Genolinguistik seakan-akan menganggap keberagaman gen berpengaruh pada keberagaman bahasa dalam suatu masyarakat, bahkan keberagaman bahasa di setiap bangsa. Asumsi di atas berangkat dari hipotesis keterhubungan dan keteraturan  sebagai landasan kerja linguistik diakronis dan ditemukannya konsep DNA sebagai persenyawaan kimia pada makhluk hidup (khususnya manusia) yang membawa kode genetik dari generasi ke generasi. Hal tersebut semakin menarik untuk dibuktikan keterkaitan antara bahasa (khususnya kerja linguistik diakronik) dan DNA.

Pembuktian kebahasaan dan pembuktian genetis tidak dapat dilakukan dengan asal-asalan. Pembuktian tersebut memerlukan kolaborasi menarik antara pakar linguistik dengan pakar genetik agar tidak terjadi kesalahpahaman konseptual, metodologi, dan aplikasi. Genolinguistik cabang ilmu baru yang merupakan gabungan dari dua cabangilmu yaitu genomika dan linguistik. Genetika adalah ilmu yang mempelajari tentangbahan genetik dari suatu organisme atau virus. Termasuk yang dikaji adalah struktur,organisasi serta fungsinya. Objek kajiannya adalah DNA. Sedangkan linguistik adalah ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya. Linguistik dan genetikamempelajari dua hal yang sama, yaitu persoalan mengenai persebaran populasimanusia. Linguistic menjelaskan kemanusiaan dari aspek bahasanya, sedangkan genetika mempelajari kemanusiaan dari aspek gennya.

Dengan demikian genolinguistik adalah subdisiplin antar bidang linguistik dan genetika yang mengkajimasalah pengelompokan populasi manusia, relasi kekerabatan di antaranya, sertaperjalanan historis yang dialami oleh kelompok populasi tersebut melaluipengelompokan dan penelusuran relasi kekerabatan bahasa dan genetis (Mahsun,2010:2).Watak dasar manusia didefinisikan sebagai sesuatu yang abstrak. Dia tidak lebih dari cara pandang atau sistem nilai atau tingkah laku yang dianut manusia.Bahasa itu sendiri lanjutnya, merupakan sistem tingkah laku.Bahasa ditegaskan Mahsun tidak saja menjadi salah satu unsur kebudayaanmanusia, namun juga merupakan wadah dari kebudayaan itu sendiri. Bahasa memilikienergi untuk mewujudkan apa yang tergambar dalam sistem kepribadian, sistem sosialmaupun sistem budaya dasar alias watak atau tabiat tersebut.Sebagai contoh dari kajian ini adalah Bahasa Mbojo. Dalam Bahasa Mbojoterdapat ruang yang berperan sebagai preposisi. Antara lain, kata da (utara), do(selatan), di (barat). Kata-kata ini digolongkan nomina ruang nama geografis (arahmata angin). Kondisi Bahasa Mbojo ini dijelaskan merupakan sebuah keunikan yangtidak dimiliki daerah lain yang sekeluarga dengan bahasa itu.

Dari kekhasan Bahasa Mbojo yang memanfaatkan kata-kata arah tersebut, tidak lepas dari penutur bahasa ini dalam mempersepsikan keberadaannya. Seluruhkemungkinan dimensi ruang (penjuru tempat) selalu menjadi unsur kebahasaannya.Artinya, berbagai kata yang berhubungan dengan dimensi ruang sangat berkaitandengan perilaku budaya masyarakat.Manfaat dari genolinguistik selain untuk pengambilan data, tentu sajabermanfaat bagi cabang-cabang ilmu yang bersangkutan. Untuk linguistik dapatmembantu melakukan penelusuran relasi berbagai macam bahasa dan dialeknya secara cermat.

B.     Sejarah Kajian Bahasa dan Kelahiran Genolinguistik

 

Bahasa tidak henti-hentinya menjadi perhatian para ilmuwan sejak dahulu kala. Sebab, bahasa memiliki posisi sentral bagi kehidupan manusia. Melalui bahasa, ilmu pengetahuan berkembang. Bahkan peradaban berkembang juga karena bahasa. Melalui bahasa, manusia tidak saja ingin menyampaikan pemahaman kepada orang lain, tetapi juga ingin dipahami oleh orang lain. Begitu sentralnya posisi bahasa bagi manusia, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahasa adalah pusat memahami dan pemahaman manusia.

Ada pertanyaan mengenai kapan sejatinya bahasa mulai dikaji manusia? Sulit meramal kapan bahasa mulai ada dan dikaji. Tetapi para ahli memperkirakan bahasa mulai ada sekitar 65 000 tahun yang lalu. Orang mengenalnya sebagai bahasa purba. Tetapi bahasa tulis baru dikenal 5000 tahun lalu. Praktis selama 60 000 tahun tidak ada jejak pengetahuan yang bisa direkam karena tidak ada bahasa tulis. Karena itu, bisa dibayangkan selama 60 000 tahun itu pula manusia tidak berbuat apa-apa untuk membawa kemajuan kehidupan. Seperti disiplin ilmu yang lain, ilmu bahasa juga mengalami pergeseran fokus kajian akibatperkembangan ilmu bahasa itu sendiri dan karena tuntutan dan perkembangan zaman.

Sebelum tahun 1900-an, kajian bahasa lebih berpusat pada kajian historis (linguistik historis). Ada yang menyebutnya sebagai linguistik diakronis atau filologi. Kajian demikian begitu dominan hingga abad XIX, yaitu tentang penelitian sejarah bahasa, pencarian tali temali antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain, dan bahasa baru yang dihasilkan dari hubungan  antar-bahasa yang hasilnya bisa berupa dialek, atau bahkan bahasa baru sama sekali. Asumsinya perubahan budaya, perpindahan penduduk, interaksi busines dan bentuk-bentuk interaksi sosial lainnya berimplikasi terhadap perubahan bahasa.

Tetapi setelah tahun 1900-an kajian bahasa lebih fokus pada analisis bahasa sebagai system komunikasi secara utuh yang berlangsung pada masa tertentu tanpa melihat aspek kesejarahannya. Kajian bahasa demikian disebut sebagai kajian bahasa sinkronis atau linguistik sinkronis. Dengan demikian, pada tahun 1900-an telah terjadi pergeseran kajian bahasa dari linguistik diakronis (historis) ke linguistik sinkronis. Tahun 1900-an pun disebut  sebagai periode titik tolak kajian linguistik modern. Sebelum tahun 1900-an, melalui kajian linguistik historis, kerja para ahli sebenarnya lebih pada upaya pemenuhan hasrat pribadi ketimbang pemenuhan hasrat pengembangan teori bahasa secara ilmiah dan universal. Selain itu, mereka juga dipengaruhi oleh keadaan umum ilmu pengetahuan pada saat itu. Sudah menjadi hal yang biasa jika para ahli menggunakan model pencariannya dengan menggunakan model yang sudah ada lebih dahulu. Sebab, ilmu berkembang dengan meneruskan atau mengembangkan ilmu yang telah ada sebelumnya. Ilmu berkembang bukan karena banyaknya pengetahuan di bidang itu, tetapi karena ilmu itu senantiasa direvisi, dikritik, disalahkan (yang menurut Popper disebut falsifikasi) sehingga hanya terdapat sedikit kesalahan. Apa artinya tumpukan ilmu pengetahuan yang campur aduk antara yang benar dan yang salah.

Sampai akhir 1900-an ilmu pengetahuan didominasi oleh temuan ahli filsafat modern, Thomas Khun, yang menciptakan istilah paradigm (paradigma) untuk menyatakan bagaimana dalam waktu tertentu berpikir tentang suatu masalah banyak dipengaruhi oleh sistem ide koherensi yang bertindak bukan sebagai ajaran teori ilmiah yang disebut secara eksplisit, melainkan sebagai asumsi yang tidak tersurat tentang rentangan hipotesis yang dapat digunakan oleh ilmuwan (Ibrahim, et al, 1985: 12).

Perlu disadari saat itu ilmu pengetahuan dihentakkan dengan temuan-temuan ilmu baru seperti teori informasi, logika matematika, mekanika kwantum, fisika nuklir, kimia nuklir, radiologi, oceanografi, antropologi budaya, psikologi, dsb. Kajian ilmu-ilmu itu lebih terfokus pada kurun waktu tertentu daripada dalam rentangan panjang dalam kurun sejarah. Karena model demikian begitu dominan saat itu, maka wajar jika para pengkaji bahasa menirunya sebagai model kajian kendati wilayah yang dikaji berbeda dengan menitikberatkan fokus perhatian kajian bahasa secara historis. Ilmu pengetahuan, termasuk bahasa, terus berkembang seiring dengan kemajuan pemikiran manusia. Temuan-temuan baru bermunculan dan ilmu pengetahuan baru diciptakan. Setelah linguistik fungsional dikembangkan para ahli dan hasilnya kajian linguistik menjadi sangat luas dengan kelahiran cabang-cabang baru seperti sosiolinguistik, psikolinguistik, antropolinguistik, neurolinguistik, geolinguistik, politikolinguistik, dan komputasi linguistik, belakangan para pengkaji bahasa menemukan tali temali baru antara genetika dan bahasa, yang mereka sebut dengan genolinguistik.

Genolinguistik merupakan studi interdisiplin antara bahasa dan genetika yang memusatkan perhatian pada pengelompokan populasi manusia, relasi kekerabatan di antara mereka, dan perjalanan historis yang dialami oleh kelompok populasi tersebut melalui pengelompokan dan penelusuran relasi kekerabatan bahasa dan genetika (Mahsun, 2010: 1). Mengutip Olson (2003), Mahsun menyatakan bahwa bahasa dan gen menyebar dari sebuah sumber yang sama. Adalah suatu kemustahilan jika manusia modern yang bermigrasi dari Afrika ke Amerika, misalnya, tanpa membawa sarana komunikasi berupa bahasa sebagai alat komunikasi di tempat baru. Sangat mustahil pula jika di tempat baru tersebut, mereka langsung berkomunikasi dengan bahasa di tempat baru. Jika kelompok migran baru tersebut tetap berkumpul, hampir dipastikan mereka akan tetap setia menggunakan bahasa asal mereka kendati telah hidup di negara lain.

Melalui studi genolinguistik akan bisa dilacak asal usul kelompok manusia dengan melihat bahasa yang dipakai. Sebagai disiplin baru, wajar jika muncul banyak pendapat mengenai posisinya. Ada yang mengatakan genolinguistik sebagai cabang ilmu genetika, tetapi sebagian yang lain mengatakan sebagai bagian dari ilmu bahasa (linguistik), sebagaimana cabang-cabang ilmu linguistik sebelumnya atau yang sering pula disebut sebagai linguistik makro. Terlepas dari perbedaan posisinya, semua sepakat bahwa genolinguistik merupakan disiplin baru sebagai pertemuan antara genetika dan linguistik. Studi-studi lintas disiplin seperti genolinguistik tersebut telah membuka peluang kajian bahasa tidak saja menjadi lebih luas, tetapi juga lebih menantang.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Simpulan

Adapun kesimpulan yang dpat saya ambil berdasarkan pembahasan diatas yaitu :

  1. Genolinguistik adalah subdisiplin antar bidang linguistik dan genetika yang mengkajimasalah pengelompokan populasi manusia, relasi kekerabatan di antaranya, sertaperjalanan historis yang dialami oleh kelompok populasi tersebut melaluipengelompokan dan penelusuran relasi kekerabatan bahasa dan genetis.
  2. Genolinguistik merupakan studi interdisiplin antara bahasa dan genetika yang memusatkan perhatian pada pengelompokan populasi manusia, relasi kekerabatan di antara mereka, dan perjalanan historis yang dialami oleh kelompok populasi tersebut melalui pengelompokan dan penelusuran relasi kekerabatan bahasa dan genetika (Mahsun, 2010: 1). Mengutip Olson (2003).
  3. Melalui studi genolinguistik akan bisa dilacak asal usul kelompok manusia dengan melihat bahasa yang dipakai. Sebagai disiplin baru, wajar jika muncul banyak pendapat mengenai posisinya. Ada yang mengatakan genolinguistik sebagai cabang ilmu genetika, tetapi sebagian yang lain mengatakan sebagai bagian dari ilmu bahasa (linguistik), sebagaimana cabang-cabang ilmu linguistik sebelumnya atau yang sering pula disebut sebagai linguistik makro. Terlepas dari perbedaan posisinya, semua sepakat bahwa genolinguistik merupakan disiplin baru sebagai pertemuan antara genetika dan linguistik.

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: