oeniwahyuni

Just another WordPress.com site

Love Story

pada November 4, 2011

 Kehidupan  pernikahan kami awalnya baik baik saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan sering terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan menuruti apa mauku. Kami jarang bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantor sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak sekolah. Tidurnya sangat sedikit , makanpun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2 kali sehari , pagi menjelang kerja , dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku fikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal hal seperti itu sebagai ungkapan sayang. Kami jarang mengobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan malam diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan berdua, kami asik sendiri dengan sendok dan garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring beradu dengan sendok dan garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main game dengan anak kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka memang dia tidak suka tertawa lepas. Aku mengira rumah tangga kami baik baik saja selam 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan dikantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat, karena terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, namanya Meisha, teman Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika ia berbicara, seakan-akan waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat-kalimatnya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki-laki maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama kuliah dulu. Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor yang mempertemukan mereka. Meisha yang berkerja di advertesing akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat 2,5 bulan yang lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario. Setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis kepadaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya atau termenung memegang Hpnya. Kalau aku Tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi dengan lauknya dengan wjah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar , dan menyapa dengan suara riangnya.

“ Hai rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini? Tidak mau makan juga? Uhh… dasar anak nakal, sini piringnya” lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba-tiba saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan, aku tidak pernah melihat tatapan yang penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti saing itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya , tidak pernah sedikitpun.

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika ia membalikan tubuhnya membelakangiku aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi Caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun pernikahan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba-tiba, membawakan donat buat anak-anak kami, dan membawakan eggroll kesukaanku. Dia mengajakku jala-jalan, kadang mengajakku nonton. Kali lain, dia dating bersama suami dan 2 anaknya yang lucu,. Aku tidak pernah bertanya apakah suamiku mencintai perempuan yang berhati bidadari itu? Karena tanpa bertanya pun aku sudah tau apa yang bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti Jakarta, aku tidak pernah menyangka , hatiku pun akan mendung, bahkan gerimis kemudian,. Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya seperti ayahny. Dia berhasil membuka password email papanya, dan memanggilku, “ Mama mau lihat surat papa buat tante Meisha?” Aku tertegung memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha, kehadiranmu bagaikan beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak-anakku. Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar pada saat aku melihatmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik terjadi diantara kami waktu pacaran duku, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap merasa hampa., maskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana cara menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secra alami, seperti pohon beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya.

Aku tidak akan pernah memilikimu, Karen kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki-laki yang sangat berpegang dengan komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dan dia bisa mendapat apapun selama aku mampu. Dia boleh mendapat seluruh harta dan tubuhku, tapi jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang memisahkan kita, aku hanya berharap engkau mengerti, you are the one in my heart.

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat….  Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku. Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain,. Aku mengumpulakan kekuatanku. Sejak itu , aku menulis surat hamper setiap hari di lemari suamiku,. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan dilemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia belikan aku kembalikan. Aku mengumpulakn tabunganku yang kusimpan dari sisa-sisa uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anakku. Mario merasa heran, karena kau tidak pernah lagi bermanja dan meminta dibelikan bermacam-macam tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karna aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman-temanku sudah menikah semua. Ternya dia memang tidak pernah menginginkanku untuk menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya kau,. Tidakkah dia tahu , bahwa aku juag seorang perempuan yang berhak dapat kasih sayang dari suaminya? Kena[pa dia tidak pernah mengatakan saja, bahwa dia tidak menciontai aku dan tidak mengingikan aku? Itu lebih aku hargai daripada dia cuman diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku. Mario terus sakit-sakitan, aku tetap merawtnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura-pura tidak tahu , aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

 

Setahun kemudian….

Meisha membuka amplop surat surat itu dengan air mata berlinag. Tanah pemakaman itu masih merah dan masih dipenuhi bunga.

“ Mario suamiku….

Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona kepadamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senagnya aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingi memilkimu seutuhnya. Aaku sering marah, ketika kamu asik bekerja, dan tidak mem[perdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku,,,, Aku piker, aku si putrid cantik yang diingkan banyak pria , telah memenuhi ruang dihatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…

Ternyata aku keliru ….. Aku mnyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membantinh hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario. Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata “ kenapa Rima? Kenapa kamu mesti cemburu? Dia sudah menikah dan aku memilihmu menjadi istriku? “ Aku tidak peduli, dan berlalu lari dihadapanmu dengan sombongnya.

Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

Istrimu, Rima

Di surat yang lain,

“ …. Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti cahaya yang aku lihat itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha ….”

Disurat yang kesekian,

“ …. Aku bersumpah akan membuatmu jatuh cinta kepadaku.

Aku telah berubah Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah-marah kepadamu, aku tidak lagi suka membanting-banting barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu ku buatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyaum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu menelfonmu, selau menanyakan apakah kekasih hatiku sudah makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidaklah kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu selalu bermasalah ….

Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya….”

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya…

Dipeluknya jelita yang tersedu-sedu disampingnya. Disurat terakhir pagi ini….

“ Hari adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang., karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya di rumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat kekhawatiran dari matamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku ganti baju agar tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku, selama hamper 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hamper 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kehawtiran itu dari matamu, inikah tanda-tanda cinta yang mulai bersemi dihatimu? ….”

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

“ siang itu mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dan terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah-marah kepadaku, tetapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya seberang jalan, ketika mama menyebrang  jalan, tiba-tiba mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi… Aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante… aku masih melihatnya memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak…” jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih kecil untuk merasakan sakit hati dihatinya, tapi dia sangat dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.

Dear Meisha

Selama setahun ini aku merasakan Rima begitu berbeda, dia tidak lagi marah-marah dan selalu berusaha menyenagkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyupkarena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba-tiba aku baru menyadari betapa beruntungnay aku memilkinya. Hatiku mulai bergetar… inikah tanda aku mulai mencintainya/

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akn membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak-anakku, tapi karena dia belahan jiwaku…

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih duduk disamping nisan. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: