oeniwahyuni

Just another WordPress.com site

Cinta Dan Pernikahan

pada November 4, 2011

Suatu hari Plato didatangi oleh seorang pemuda yang adalah muridnya. Pemuda ini berkata pada Plato , “ Guru, terus terang saya bingunG apa yang dinamakan Cinta dalam pernikahan. Bisakah guru memberitahukan saya seperti apakah CINTA dan PERNIKAHAN itu? “

Setelah sempat berfikir sejenak, Plato berkata pada muridnya, “ sebelum saya menjawab, saya ingin meminta kamu melakukan sesuatu terlebih dahulu. Pergilah kepadang rumput disebalah utara. Di musim semi seperti ini biasanya padang akan ditumbuhi oleh berbagai macam bunga yang indah. Carilah bunga yang menurutmu paling indah dan petiklah satu untuk kamu bawa kemari. Saat kamu menemukan bunga terindah itu, kamu akan mewnemukan cinta. Tapi ingat, kamu hanya boleh berjalan maju sekali dan tidak boleh mundur lagi.”

Berangkatlah pemuda itu dan 2 jam kemudian ia kembali kepada Plato dengan tangan kosong. “ Mengapa kamu tidak membawa bunga yang ku minta ? apakah disana tidak ada bunga yang tumbuh?” pemuda itu menjawab dengan wajah yang suram, “ disana ada banyak bunga yang indah guru. Masalahnya …. Setiap saya ingin memetik sebuah bunga, saya berfikir bahwa jangan-jangan didepan sana akan ada bunga yang jauh lebih indah. Karena saya terus berfikir demikian , akhirnya saya sampai di ujung padang dan tidak ada bunga lagi disana,” Plato mengangguk- angguk, “ Ya, itulah cinta… sekarang saya mohon kamu melakukan 1 lagi permintaan saya. Pergilah kehutan sebelah selatan, dan tebang sebuah pohon yang menurutmu paling sehat dan kualitas kayunya paling bagus.”

1 jam kemudian pria itu kembali kepada Plato sambil membawa sebatang pohon. Plato tersenyum dan bertanya, “ Apakah kamu sudah menemukan pohon terbaik?” Pemuda itu menjawab, “ Kali ini saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Saya berjalan dan melihat sebuah pohon yang saya rasa sangat baik. Kerenanya segera saya tebang dan saya tidak melihat pohon-pohon yang lain lagi. Saya yakin bahwa pilihan saya tepat dan segera membawanya kesini.”

Plato mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar. Sesaat kemudian ia berkata pada muridnya, “ Itulah pernikahan. Cinta adalah ketika kamu dapat menahan keinginanmu dan kesempurnaan. Waktu tidak bisa berjalan mundur dan hanya cinta yang memungkinkan kamu menerima apa adanya. Lalu, pernikahan adalah kelanjutan kedua. Ketika kamu terlalu menginginkan kesempurnaan dalam pernikahan, maka kamu justru tidak akan mendapatkan apa-apa”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: