oeniwahyuni

Just another WordPress.com site

Analisis Cerpen ” Dua Malaikat ” Karya Lana Azkia

pada November 4, 2011

“Analisis Unsur-unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerpen “ Dua Malaikat “ Karya Lana Azkia”

Disusun Oleh :

Nurwahyuni

0801403458

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Cokroaminoto Palopo

2011

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.   Latar Belakang

Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium dan bahasa sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam hal ini kehidupan mencakup hubungan antarmasyarakat, antarmasyarakat dengan orang-seorang, antarmanusia, dan antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang (Damono, 1978 : 1).

Tidak dipungkiri dunia sastra saat ini sedang mengalami banyak terobosan yang digawangi oleh sastrawan-sastrawan muda. Dunia sastra adalah dunia yang lebih berpihak kepada manusia dan aspek kemanusiaan serta semakin diminati banyak orang karena eksistensinya lebih banyak menawarkan pilihan- pilihan dalam menghadapi liku-liku kehidupan. Hal ini terbukti dengan munculnya karya sastra yang mengangkat permasalahan yang dulu dianggap tabu dan tidak sopan oleh masyarakat, kemudian dikemas dalam sebuah karya yang layak dinikmati masyarakat.

Dapat dikatakan bahwa antara sastra dan masyarakat terdapat hubungan keterkaitan yang sangat erat. Keadaan ini dapat dilihat melalui banyaknya karya sastra yang mengangkat masalah-masalah seperti tindak kekerasan yang terjadi pada anak-anak serta realitas yang ada dalam masyarakat.

Didalam karya sastra memiliki jenis yang bermacam-macam, ada yang berbentuk sebuah puisi, cerita yang biasa disajikan dalam bentuk cerpen, novel atau roman, serta masih banyak lagi karya-karya sastra lainnya. Didalam makalah ini akan membahas tentang karya sastra yang berbentuk cerita, dimana karya sastra ini memiliki dua jenis yaitu fiksi dan non fiksi.

Fiksi merupakan suatu karya satra yang mengungkapkan suatu realitas kehidupan sehingga mampu mengembangkan daya imajinasi. Ada dua macam bentuk dari sebuah karya fiksi yaitu :

  1. Fiksi imajinatif : berdasarkan imajinasi
  2. Fiksi ilmiah : berdasarkan analisa ilmiah.

Adapun sifat sifat dari sebuah karya sastra yang bersifat fiksi yaitu :

  1. Segala sesuatu yang diungkapkan tidak dapat dibuktikan kebenarannya dalam kehidupan sehari-hari, merupakan hasil rekaan.
  2. Semua tokoh, setting dan pokok persoalan adalah realitas imajinatif bukan objektif.
  3. Kebenaran yang terjadi didalam fiksi adalah bukan kebenaran objektif melainkan kebenaran logis yaitu kebenaran yang ada dalam penalaran.
  4. Manusia-manusia yang hidup dalam kenyataan sehari-hari yang terlibat dalam seluruh aspek kehidupan penokohan fiksi mampu mempengaruhi dan membentuk sifat dan sikap pembaca , pendengar, dan pemirsa.
  5. Kebebnaran logis fiksi menyebabkan setiap fiksi selalu multi interpretable, artinya pembaca, pendengar, pemirsa mempuntai tafsiran.

Prosa fiksi adalah kisahan yang diemban oleh pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga terjalin suatu cerita. Karya fiksi dapat berupa cerpen, cerber, roman, novel, novelette  maupun skenario sinetron ataupun film. Disini kita akan membahas bentuk karya  fiksi yaitu cerpen. Dan cerpen yang akan kita kaji yaitu sebuah karya sastra fiksi karya Lana Azkia dengan judul “ Dua Malaikat “.

  1. Rumusan Masalah

adapun rumusan masalah yang dapat kami ambil berdasarkan latar belakang diatas yaitu :

  1. Jelaskan unsur-unsur intrinsik dari cerpen “ Dua Malaikat “ karya Lana Azkia ?
  2. Jelaskan unsur-unsur Ekstrinsik dari cerpen “ Dua Malaikat “ karya Lana Azkia ?
  3. Termasuk tipe cerpen apakah “ Dua Malaikat “ ini ?
  4. Tujuan Penulisan

Tujuan dibuatnya makalah ini yaitu untuk menjadi referensi bagi kita sebagai mahasiswa maupun khalayak umum yang membacanya agar lebih mengetahui apakah pengertian dari cerpen, unsur-unsur serta tipe-tipe apa saja didalam sebuah cerpen.

  1. Manfaat Penulisan

Karena adanya penelitian teks serta analisis cerpen “ Dua Malaikat “ Karya Lana Azkia ini, diharap memberikan manfaat sebagai berikut :

  1. Memberikan pengetahuan tentang pengertian, unsur-unsur serta tipe-tipe yang termasuk dalam cerpen.
  2. Memberikan informasi serta pengetahuan bagaimana cara menentukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam cerpen “ Dua Malaikat “ Karya Lana Azkia.
  3. Mengetahui termasuk tipe cerpen apa “ Dua Malaikat “ Karya Lana Azkia ini.
  4. Dapat menjadi bahan referensi dan pembelajaran didalam memahami cerpen bagi mahasiswa maupun khalayak umum( Masyarakat) yang membacanya.

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI

  1. A.   Sejarah Munculnya Cerpen ( Cerita Pendek ).

Cerita pendek bermula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah terkenal seperti Iliad dan Odyssey karya Homer. Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama, dengan irama yang berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya. Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah disampaikan

Bentuk kuno  dari cerita pendek, yakni anekdot, populer pada masa Kekaisaran Romawi. Anekdot berfungsi seperti perumpamaan, sebuah cerita realistis yang singkat, yang mencakup satu pesan atau tujuan. Banyak dari anekdot Romawi yang bertahan belakangan dikumpulkan dalam Gesta Romanorum pada abad ke-13 atau 14. Anekdot tetap populer di Eropa hingga abad ke-18, ketika surat-surat anekdot berisi fiksi k Pada pertengahan abad ke-17 di Perancis terjadi perkembangan novel pendek yang diperhalus, “nouvelle”, oleh pengarang-pengarang seperti Madame de Lafayette. Pada 1690-an, dongeng-dongeng tradisional mulai diterbitkan (salah satu dari kumpulan yang paling terkenal adalah karya Charles Perrault). Munculnya terjemahan modern pertama Seribu Satu Malam karya Antoine Galland (dari 1704; terjemahan lainnya muncul pada 1710–12) menimbulkan pengaruh yang hebat terhadap cerita-cerita pendek Eropa karya Voltaire, Diderot dan lain-lainnya pada abad ke-18.

Cerita-cerita pendek modern muncul sebagai genrenya sendiri pada awal abad ke-19. Contoh-contoh awal dari kumpulan cerita pendek termasuk Dongeng-dongeng Grimm Bersaudara (1824–1826), Evenings on a Farm Near Dikanka (1831-1832) karya Nikolai Gogol, Tales of the Grotesque and Arabesque (1836), karya Edgar Allan Poe dan Twice Told Tales (1842) karya Nathaniel Hawthorne. Pada akhir abad ke-19, pertumbuhan majalah dan jurnal melahirkan permintaan pasar yang kuat akan fiksi pendek antara 3.000 hingga 15.000 kata panjangnya. Di antara cerita-cerita pendek terkenal yang muncul pada periode ini adalah “Kamar No. 6″ karya Anton Chekhovarya Sir Roger de Coverley diterbitkan.

Permintaan akan cerita-cerita pendek oleh majalah mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-20, ketika pada 1952 majalah Life menerbitkan long cerita pendek Ernest Hemingway yang panjang (atau novella) Lelaki Tua dan Laut. Terbitan yang memuat cerita ini laku 5.300.000 eksemplar hanya dalam dua hari.

Sejak itu, jumlah majalah komersial yang menerbitkan cerita-cerita pendek telah berkurang, meskipun beberapa majalah terkenal seperti The New Yorker terus memuatnya. Majalah sastra juga memberikan tempat kepada cerita-cerita pendek. Selain itu, cerita-cerita pendek belakangan ini telah menemukan napas baru lewat penerbitan online. Cerita pendek dapat ditemukan dalam majalah online, dalam kumpulan-kumpulan yang diorganisir menurut pengarangnya ataupun temanya, dan dalam blog. Dan di Indonesia sendiri cerpen masih berkesan masih baru dan mulai dikenal dimasyarakat kita kira-kira setengah abad yang lalu.

  1. B.   Pengertian Cerpen ( Cerita pendek ).

Cerita pendek atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan short story, merupakan satu karya sastra yang sering kita jumpai di berbagai media massa. Namun demikian apa sebenarnya dan bagaimana ciri-ciri cerita pendek itu, banyak yang masih memahaminya.Cerita pendek apabila diuraikan menurut kata yang membentuknya berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut : cerita artinya tuturan yang membentang bagaimana terjadinya suatu hal, sedangkan pendek berarti kisah pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam situasi atau suatu ketika ( 1988 : 165 ).

Menurut Susanto dalam Tarigan (1984 : 176), cerita pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.

Sementara itu, Sumardjo dan Saini (1997 : 37) mengatakan bahwa cerita pendek adalah cerita atau parasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar terjadi tetapi dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, serta relatif pendek).
Dari beberapa pendapat di atas penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan cerita pendek adalah karangan nasihat yang bersifat fiktif yang menceritakan suatu peristiwa dalam kehidupan pelakunya relatif singkat tetapi padat.

  1. C.   Unsur Intrinsik dan ekstrinsik serta Tipe-tipe dari Cerpen ( Cerita Pendek)

Cerpen dalam karya sastra prosa memiliki unsur-unsur intrinsik yang membangunnya. Hal ini yang perlu diperhatikan adalah unsur-unsur tersebut membentuk kesatuan yang utuh. Dalam hal ini, satu unsur akan mempengaruhi yang lainnya.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini unsur-unsur yang terdapat dalam cerpen yaitu :
1. Tema : merupakan pokok persoalan yang menjiwai seluruh cerita. Tema diangkat dari konflik kehidupan. Tema menyangkut keseluruhan isi cerita dalam cerpen. Tema dalam cerpen dapat mengangkat masalah persahabatan, cinta kasih, permusuhan, dan lain-lain. Hal yang pokok dalam tema berhubungan dengan sikap dan pengamatan pengarang terhadap kehidupan.

  1.  Plot  : dasar cerita atau pengembangan cerita. Plot merupakan bagian rangkaian perjalanan cerita yang tidak tampak. Jalan cerita dikuatkan dengan hadirnya plot. Plot dengan jalan cerita tidak dapat dipisahkan.
  2. Alur atau rangkaian cerita :  Dalam alur hubungan tokoh bisa rapat yaitu memusat pada satu tokoh; atau renggang yaitu tokoh berjalan masing2.
    Proses alur bisa maju, mundur, atau maju mundur. Penyelessain alur ada alur klimaks dan alur anti klimaks.
  3. Setting : tempat terjadinya cerita.  Dalam sebuah cerita latar belakang dimana pelaku menjalani kehidupan mereka. Pada cerpen tentu latar merupakan hal yang penting. Latar sangat berpengaruh sangat kuat terhadap personalisasi, aksi/tindakan , dan cara berfikir para tokohnya.
  4. Penokohan / perwatakan : tokoh ( pelaku ) cerita dalam terbatas. Berbeda dengan novel yang digambarkan secara mendetail, tokoh dalam cerpen perlu lebih dicitrakan lebih jauh oleh si pembaca. Tokoh digambarkan sebagai tokoh utama (protagonis), tokoh yang bertentangan (antagonis), maupun tokoh pembantu – tapi ini bukan PRT.

    Penghadiran tokoh bisa langsung dengan cara melakukan deskripsi, melukiskan pribadi tokoh; atau tidak langsung dengan cara dialog antar tokoh.

  5. Sudut pandang ( Point of view ) : yang mendasari tema dan tujuan penulisan. Penghadiran biasa dibagi atas tiga yaitu :
    1. Sudut pandang orang pertama, digunakan pengarang apabila ingin menyampaikan karakter tokoh “ Aku “ secara lebih mendalam hingga kedasarbatinnya.
    2. Sudut pandang orang kedua, ditandai dengan kata “ Kau “ tetapi hal ini jarang terdapat didalam sebuah cerita karena dapat menjadi suatu kejanggalan kecuali sudut pandang orang kedua jamak ( Mereka ).
    3. Sudut pandang orang ketiga, digunakan ketika pengarang ingin menceritakan sejumlah tokoh tanpa harus terhambat jika pendalaman batin tokoh-tokoh itu ingin ia ungkapan kepada pembaca. Biasa ditandai dengan kata “ Dia” atau nama tokohnya.
    4. Gaya bahasa : cara mengunkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperhatikan jiwa dan kepribadian penulis.
    5. Amanat : bagian akhir dari sebuah cerita yang merupakan pesan dari cerita yang dibaca. Dalam hal ini, pengarang menitipkan nilai-nilai kehidupan yang dapat diambil dari cerpen yang dibaca.

Selain unsur intrinsik cerpen terdapat pula unsur ekstrinsik cerpen. Unsure ekstrinsik cerpen merupakan unsure pembentuk karya sastra yang berasal dari luar satra itu sendiri. Unsure ekstrinsik meliputi biografi pengarang, sosial budaya, moral dan agama.

Ada dua tipe cerpen, yaitu cerpen yang ditulis dengan sempurna disebut well made short-story dan cerpen yang ditulis tidak utuh disebut slice of life short-story. Tipe pertama adalah cerpen yang ditulis secara fokus yaitu: satu tema dengan plot yang sangat jelas dan ending yang mudah dipahami. Cerpen tersebut pada umunya bersifat kovensional dan berdasar pada realitas /fakta. Maka cerpen tipe ini biasanya enak dibaca dan mudah dipahami. Pembaca awam dapat membaca cerpen jenis ini kurang dari satu jam.

Sebaliknya, cerpen tipe kedua, yaitu slice of life short-story, tidak terfokus temanya, memencar, sehingga plot tidak terstruktur. Plot(alur) ceritanya kadang dibuat mengambang oleh pengarang.nya. Pada umumnya,cerpen jenis ini ditulis dengan gaya kontemporer dan bersumber dari ide atau gagasan murni, maka disebut juga dengan cerpen gagasan. Dengan demikian, cerpen tipe ini seringkali sulit dipahami sehingga perlu dibaca berulang-ulang.Pembaca karya seperti itu adalah kalangan tertentu yang memang paham akan karya-karya sastra.

Cerpen tipe mana pun, yang ditulis sebagai cerpen standar, cermin(flash) maupun cerpan mempunyai beberapa persamaan:

  • Bercerita tentang manusia atau sesuatu yang dimanusiakan
  • Menyajikan satu (tunggal) peristiwa(lampau, sekarang atau yang akan datang)
  • Jumlah tokoh yang ditampilkan satu atau paling banyak tiga orang.
  • Kurun waktu peristiwa sangat terbatas.
  • Pada umumnya, karya dipublikasi di media-massa sebelum diterbitkan dalam bentukkumpulan cerpen.
  • Mengandung elemen plot, sudut pandang, tokoh/pelaku, dialog, konflik, setting dan suasana hati (mood/atmosphere).

 

 

BAB III

METODE PENULISAN

  1. A.   Desain penulisan

Teknik yang digunakan dalam menganalisis data didalam pembuatan makalah ini yaitu metode analisis deskriptif dan hasil dari pembahasan ataupun analisis ini kita dapatkan dengan cara diskusi kelompok sehingga kita dapat dengan mudah memahami dan mengembangkannya secara luas lagi.

  1. B.   Teknik menulis Cerpen

Ada beberapa yang perlu diperhatikan sebelum menulis sebuah cerpen yaitu :

  • Peristiwa, Tokoh, Konflik

Narasi adalah cerita. Cerita didasarkan pada urutan kejadian atau peristiwa. Dalam kejadian-kejadian tersebut terdapat tokoh. Tokoh-tokoh tersebut menghadapi serangkaian konflik atau pertikaian. Tiga hal tersebutlah (urutan peristiwa, tokoh, dan konflik) yang merupakan unsur pokok sebuh narasi. Kesatuan dari urutan peristiwa, tokoh, dan konflik itulah yang sering disebut alur atau plot. arasi bisa berupa fakta, bisa pula berupa fiksi atau rekaan. Narasi yang berisi fakta antara lain biografi (riwayat hidup seseorang), otobiografi (riwayat hidup seseorang yang ditulisnya sendiri. Narasi yang berisi fiksi atau rekaan antara lain novel, cerita pendek, cerita bersambung, atau cerita bergambar. Plot atau alur dalam sebua narasi dapat berupa alur tunggal, dapat pula terdiri dari alur utama dan beberapa buah alur tambahan atau sub-plot.

  • Latar dan Warna

Alur cerita (kejadian, konflik, dan tokoh) tentu saja tidak terjadi dari kekosongan (vacuum). Pasti peristira tersebut terjadi pada waktu tertentu dan di tempat tertentu. Maka alur terikat pada latar waktu dan latar tempat. Latar tempat dan latar waktu membutuhkan kekhususan dan ketajaman deskripsi yang menunjukkan pada pembaca bahwa waktu dan tempat kejadian tersebut benar-bena khas sehingga cerita tidak daat dipindahkan secara sembarangan karena kekhasan tersebut memberikan nilai tertentu. Inilah yang disebut sebagai warna lokal dalam cerita. Warna lokal ini diciptakan dengan memberikan deskripsi yang teliti tentang lokasi, benda-benda, tokoh-tokoh serta kebiasaan-kebiasaan setempat, dialog tokoh-tokohnya yang mengandung dialek-dialek tertentu

  • Kerangka (Kisi-kisi Alur)

Kerangka atau kisi-kisi alur sangat penting untuk dibuat sebelum kita menulis cerpen. Kisi-kisi alur ini digunakan untk menjaga agar dalam cerita yang akan kita buat tidak terjadi anakronisme, yaitu peristiwa yang salah waktu dan tempatnya. Di samping itu, kisi-kisi ini juga berguna untuk mempertahankan cerita agar dalam pengembangannya cerita tetap terfokus pada konflik yang direncanakan, tidak melantur ke mana-mana. Posisi ”Kita”Dalam sebuah narase tentu saja ada yang bercerita, yang menceritakan kepada kita apa saja yang terjadi. De fakto yang bercerita adalah penulis cerita itu. Penulis cerita dalam bercerita dapat mengambil posisi sebagai orang di luar cerita yang menceritakan segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya. Atau, bisa pula penulis mengambil posisi seolah-olah ia berada di dalam cerita tersebut. Ia ikut menjadi salahsatu tokoh dalam cerita yang dibuatnya itu.Pengambilan posisi diri ini sangat mempengaruhi cerita yang akan dibuatnya. Maka, diperlukan pertimbangan matang untuk memilih gaya pertama, atau gaya kedua sehingga nantinya terdapat konsistensi dalam bercerita.

  • Percakapan (Dialog)

Sebenarnya tidak ada aturan baku yang mengatur seberapa besar porsi dialog dalam sebuah cerita. Artinya, boleh saja sebuah cerpen sejak awal sampai akhir isinya dialog antartokoh. Porsi deskripsi latar dan peristiwanya dibuat seminimal mungkin. Namun, boleh juga sebuah cerpen hanya terdiri dari deskripsi semua, tidak ada dialog sama sekali.Hanya, rasa-rasanya akan menjadi cerpen yang tidak enak dibaca ketika tidak terdapat keseimbangan antara dialog dan deskripsi latar.

 

  1. C.    Ragam Tulisan

Bentuk bentuk ragam tulisan sebagai berikut :

  • Berita Ringan : Ialah tulisan santai, berisi info ringan yang “sambil menghibur, menambah pengetahuan”. Jenisnya:
  1.   Soft News
    Berisi fakta yang ditulis secara lempang. Sebagaimana adanya tanpa tambahan apa-apa.
    Contoh: Modeshow di desa “ anu “
  2. Interpretatif News
    Disusun seperti berita ringan, tapi diberi penjelasan yang mendalam, baik dari penulisnya sendiri maupun dari narasumber lain yang dikutipnya.
    Contoh: Mengapa harga lombok merah merosot?
  3. Human Interest News
    Berita ringan mengenai sisi kehidupan orang yang sedang menjadi berita, sering menyentuh kalbu.
    Contoh: Telpon terakhir orang yang baru kecelakaan
  • Feature ialah tuturan mengenai fakta, kejadian, peristiwa atau proses, disertai riwayat terjadinya, duduknya perkara, proses pembentukannya, atau cara kerjanya. Jenisnya:
  1.  News Feature
    Tuturan yang bercantelan pada satu berita tentang suatu kejadian, berikut sebab musabab dan proses timbulnya kejadian.
    Contoh: Pemakaian layar plastik pada tanker raksasa
  2. Feature Ilmu Pengetahuan
    Mewadahi tulisan keilmuan, baik sains, teknologi, ilmu sosial, maupun ilmu terapan, yang dituturkan secara ilmiah tapi populer.
    Contoh: Skandal seks kaum belut
  3. Feature Perjalanan
    Menuturkan obyek wisata yang dapat dinikmati orang kalau melakukan perjalanan ke tempat yang dituturkan itu.
  4.   Human Interest Feature
    Menyampaikan kisah pengalaman hidup pribadi atau kisah nyata seseorang “sebagaimana dituturkan kepada penulis”
    Contoh: Derita istri (madu) muda
  • Artikel ialah tulisan tentang suatu masalah, berikut pendapat dan pendirian penulis tentang masalah itu. Jenisnya:
  1. Opini
    Tulisan pendek seorang kolumnis mengenai suatu masalah dan pendapatnya yang subyektif sebagai saran pemecahannya.
    Contoh: Mengatasi kejahatan penarikan cek kosong
  2.  Artikel
    Hasil pemikiran pakar bidang keilmuan tertentu yang cukup panjang dan mendalam mengenai suatu masalah berikut sikap dan pendirian penulisnya berdasarkan studi literatur tentang masalah yang sama dan pemecahannya sebagai hasil pemikiran yang  mendalam
    Contoh: Kemelut Hutan Lindung Muara Angke
  3.  “How to Do It” Article
    Mewadahi tulisan tentang langkah-langkah melakukan sesuatu secara teknis, disertai penjelasan mengapa langkah itu perlu dilakukan, dan apa akibatnya kalau tidak dilakukan.
    Contoh: Cara bertanam jambu monyet
  •   Laporan ialah tulisan panjang tentang suatu masalah (persoalan) yang disusun secara berturutan, rinci dan lengkap, berdasarkan pengamatan sendiri.

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

  1. A.      Penyajian Hasil Analisis Data

Unsur-unsur intrinsik dari cerpen “ Dua Malaikat “ karya Lana Azkia yaitu :

  1. 1.         Tema : Kehidupan Universal yang bersifat sosial

Pembentukan tema ini ditandai dengan melihat secara keseluruhan isi dari cerpen tersebut, dimana menggambarkan kehidupan dua orang anak yang menghadapi kerasnya hidup dikota dan susahnya mencari uang untuk bertahan hidup. Dan hal ini digambarkan mulai dari awal paragraf hingga akhir atau mencapai klimaksnya, semuanya menceritakan kehidupan tokoh yang hidup kekurangan dimana mereka mencari uang dengan susahnya tapi selalu semangat.

Hal ini dapat dilihat dari kutipan kalimat didalam cerpen yaitu “  mereka masih setia menjajakan apa saja didaerah ini, meskipun panas dan debu selalu menemani. “ Ayo bangun , Man! Kita tidak boleh kalah dari matahari itu. Nanti kita tidak dapat minum kalo dagangan kita tidak laku-laku.” Johar bangkit dari duduknya dan ditariknya tangan sahabatnya yang kecil itu untuk segera bangkit.

  1. 2.            Plot

Pengenalan konflik yang pertama didalam cerpen ini yaitu dua orang anak yang mengatasi rasa letih dan lelah yang mereka rasakan. Hal ini dapat dilihat dari kutipan kalimat didalam cerpen yaitu : “ ia mengatasi peluh yang terus bercucuran dari dahi dekilnya itu”.

Namun mereka tak kehilangan semangat untuk menjajakan tissue untuk orang-orang agar mereka dapat membeli minuman dingin sebagai penghilang rasa haus dan lelahnya. Walaupun kadang mereka tak dihiraukan tapi mereka tetap tersenyum. Hal ini dapat dilihat dari kutipan kalimat didalam cerpen yaitu : “ Pak tissunya, pak?” tawar Johar dengan senyum ceria kepada seorang laki-laki tua. Lelaki itu hanya mengangkat tangan sebelah tanpa menoleh. “ Terima kasih pak” jawab Johar dengan sopan.

Hasil jerih payah mereka berdua untuk menjajakan tissu dengan semangat tidak sia-sia, seorang wanita muda membeli 3 pak tissu mereka namun uang wanita tersebut sangat besar dan mereka tidak memilki kembalian untuk uang tersebut. Amar dan Johar tetap berusaha untuk mengembalikannya dengan segala cara walaupun wanita tersebut sudah tak mau mengambil kembaliannya. Dan akhirnya merekapun mendapatkan uang dan membelikan 3 bungkus es teh manis, dan memberikan 2 bungkus es teh manisnya kepada dua anak kecil. Hal ini dapat dilihat dari kutipan kalimat didalam cerpen yaitu : “ Eh, adik-adik…..! ini mas bawain es buat kalian.” Aman memberikan dua bungkus es yang baru dibelinya kepada dua anak kecil yang menerimanya.

  1. 3.         Alur

Alur yang digunakan pengarang dalam cerpen ini alur maju. Karena cerpen ini tidak menceritakan kehidupan dimasa lalu mereka namun apa yang terjadi pada saat ini.

  1. 4.      Setting ( Latar atau tempat kejadian ).

Ada tiga setting yang digunakan pengarang didalam cerpennya yaitu

  1. Dijembatan penyeberangan, hal ini dapat dilihat pada kalimat : maka turunlah laki-laki mungil itu dari jembatan penyeberangan tempat beristirahat untuk kembali kejalanan panas untuk menjajakan tissunya.
  2. Di warung pinggil jalan, hal ini dapat dilihat pada kalimat : Johar dengan senyum ceria kepada seorang lelaki tua diwarung pinggir jalan.
  3. Kompleks perbelanjaan , hal ini dapat dilihat pada kalimat : kali ini Amar lebih beruntung dari Johar, seorang wanita muda . ia baru saja keluar dari komplek perbelanjaan . ia membeli 3 pak tissu sekaligus dari Amar.
  4. 5.      Penokohan / perwatakan .

Ada dua penggambaran pelaku atau tokoh yang digambarkan oleh pengarang didalam cerpen ini pada paragraf pertama yaitu :

  1. a.  Aman : seorang bocah yang baik, walaupun dekil, kumal keringatan.
    1. Johar : sama seperti Aman tetapi bedanya dia lebih manis dan ganteng.

 

 

  1. 6.         Sudut pandang

Sudut pandang yang digunakan pengarang didalam pembuatan cerpennya yaitu sudut pandang orang ketiga. Hal ini bisa dilihat dari penggambaran tokoh yang dilakukan pengarang secara mendetail.

  1. 7.      Gaya bahasa

Gaya bahasa yang digunakan pengarang didalam cerpennya yaitu mengunakan kalimat-kalimat yang sederhana namun mengena. Sehingga tidak bertele-tele dan pembaca tidak bosan untuk membacanya.

  1. 8.      Amanat

Adapun amanat yang pengarang dapat sampaikan secara tersirat didalam cerpen ini yaitu sebagai manusia kita harus bersyukur terhadap apa yang kita miliki karna masih banyak orang-orang yang lebih susah dan menderita dari yang kita alami sekarang. Dan cerpen ini memiliki suatu nasehat atau amanat yang sangat bermanfaat bagi kita agar lebih mensyukuri segala apa yang telahg kita punya agara menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Walaupun pengarang tidak menuliskan amanat atau nasehat didalam karangannya namun kita sebagai pembaca dapat menyimpulkan secara pribadi.

Selain unsur-unsur instrinsik yang kita kaji namun adapaun unsur-unsur ekstrinsik yang pengarang gambarkan didalam cerpennya yaitu unsur ekstrinsik yang bertemakan kehisupan sosial dimana cerita ini mengungkapkan kisah dua orang anak kecil yang bertahan hidup dan berkerja dengan keras tanpa mengenal letih danm lelah untuk dapat bertahan hidup.

Cerpen “ Dua Malaikat “ karya Lana Azkia ini termasuk tipe cerpen yang pertama adalah cerpen yang ditulis secara fokus yaitu: satu tema dengan plot yang sangat jelas dan ending yang mudah dipahami. Cerpen tersebut pada umunya bersifat kovensional dan berdasar pada realitas /fakta. Maka cerpen tipe ini biasanya enak dibaca dan mudah dipahami. Pembaca awam dapat membaca cerpen jenis ini kurang dari satu jam. Biasa disebut dengan well made short-story.

 

  1. B.   Pembahasan

Cerpen yang berjudul “ Dua Malaikat “ karya Lana Azkia ini bertemakan kehidupan sosial yang menceritakan kisah dua orang anak yang merasakan susahnya mencari uang di kota hanya ingin bertahan hidup. Cerita ini menggunakan alur maju yang dimana pemaparan konfliknya sampai mencapai titik klimask terjadi pada saat itu juga. Dan berlatarkan suasana kota yang sangat ramai pada siang hari yang sangat terik, sehingga pengambaran latarnya seakan-akan begitu nyata karna pengarang menberikan contoh tempat yang ramai di kota misalnya di jembatan penyeberangan, warung makan sampai pusat perbelanjaan.

Tokoh-tokoh yang terdapat didalam cerpen ini terdapat dua tokoh utama yaitu Aman dan Johar, didalam penggambaran kedua tokoh ini pengarang sangat bagus dalam mengunkapkan keadaan, sifat atau situasi yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam penggambarana tokohnya yaitu menggunakan sudut pandang orang ketiga . dimana seperti yang kita ketahui penggambaran pengarang apabila menggunakan sudut pandang orang ketiga yaitu ketika pengarang ingin menceritakan sejumlah tokoh tanpa harus terhambat.

Gaya bahasa yang digunakan pengarang bersifat sangat sederhana dan mengena sehingga mudah dipahami dan tidak membosankan bagi pembaca untuk membacanya. Dan cerpen ini memiliki suatu nasehat atau amanat yang sangat bermanfaat bagi kita agar lebih mensyukuri segala apa yang telahg kita punya agara menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Walaupun pengarang tidak menuliskan amanat atau nasehat didalam karangannya namun kita sebagai pembaca dapat menyimpulkan secara pribadi.

Tipe cerpen yang dimiliki cerpen ini yaitu well made short-story, dimana tipe cerpen ini biasanya enak dibaca dan mudah dipahami. Pembaca awam dapat membaca cerpen jenis ini kurang dari satu jam.

 

 

 

BAB V.

PENUTUP

  1. A.         Simpulan

Adapun kesimpulan yang dapat kita ambil dari makalah ini yaitu :

  1. Unsur-unsur intrinsik dalam cerpen yang berjudul “ Dua Malaikat “ karya Lana Azkia ini yaitu:
    1. bertemakan kehidupan sosial yang menceritakan kisah dua orang anak yang merasakan susahnya mencari uang di kota hanya ingin bertahan hidup.
    2. Cerita ini menggunakan alur maju.
    3. Cerita ini berlatarkan kehidupan di kota hal ini bisa dilihat dengan penggambarannya berlatarkan jembatan penyeberangan, warung makan sampai pusat perbelanjaan.
    4. Tokoh-tokoh yang terdapat didalam cerpen ini terdapat dua tokoh utama yaitu Aman dan Johar.
    5. Gaya bahasa yang digunakan pengarang dalam menggambarkan tokonya yaitu menggunakan sudut pandang ornag ketiga.
    6. Sudut pandang yang digunakan pengarang bersifat sangat sederhana dan mengena sehingga mudah dipahami dan tidak membosankan bagi pembaca untuk membacanya.
    7. Amanat yang terkandung dalam cerpen ini bermanfaat bagi kita agar lebih mensyukuri segala apa yang telahg kita punya agara menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
    8.  Unsur-unsur ekstrinsik yang terkandung dalam cerpen “ Dua Malaikat “ karya Lana Azkia ini yaitu unsur ekstrinsik yang bertemakan kehidupan sosial masyarakat.
    9. Tipe cerpen yang dimiliki cerpen ini yaitu well made short-story, dimana tipe cerpen ini biasanya enak dibaca dan mudah dipahami. Pembaca awam dapat membaca cerpen jenis ini kurang dari satu jam.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Sehe Madeamin. 2009. Kajian Prosa Fiksi dan Drama.

Hoetomo.2005.Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Mitra Pelajar.

http://id.wikipedia.org/wiki/Cerita_pendek

Kategori: Sastra

http://www.google.com

 

 

 

 

 

 

SINOPSIS

 

Cerpen karya Lana Azkia ini yang berjudul “ Dua Malaikat “, meceritakan dua orang anak lelaki Aman dan Johar. Dimana duaa bocah itu harus merasakan kerasnya hidup di kota ddan bagaimana susahnya mencari uang. Disini pengarang sangat sederhana menceritakan kehidupan mereka, mulai dari cara mereka menjajakan tissu untuk mendapatkan uang dan membelikan adik-adiknya sekantong es the manis. Kerja keras mereka untuk menjajakan tissue dengan ikhlas dan sabar. Sungguh sangat menyentuh hati apabila kita membacanya dan penuh sarat makna serta dapat dijadikan pelajaran sosial untuk kita pembacanya serta untuk memahami kata-kata yang terkandung didalmnya sangatlah mudah karna pengarang menyajikannya dengan sangat sederhana dan kita sebagai pembaca tidak bosan untuk membacanya.

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 630 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: